Oleh : Adhi Kurniawan
MAHAMERU, SUMMIT ATTACK !!!
Lanjutan : Hari Keempat, Minggu 27 September 2009, Arcopodo 02.30
Inilah saat di mana tekad mengeras menjadi batu. Kami arahkan senter ke atas, sebatas pandangan yang terlihat hanya pasir dan batu. Samasekali tidak terlihat siluet Puncak Mahameru, hanya tampak lereng terjal tak berujung. Kami saling menatap dalam kebisuan, melingkar, lalu berdoa. Doa terakhir sebelum kami memulai bertaruh dengan nasib. Aku tak sanggup lagi mengucapkan doa, aku hanya bisa memohon dalam hati, semoga pendakian ini lancar, kami diberi kemudahan, kekuatan .,dan.,keselamatan.
BISMILLAH.,kami mulai menapakkan kaki di pasir. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.,pada langkah keempat.,sruuuttttt.,pasir longsor. Kami kembali ke langkah ke dua. Tiga puluh menit awal kejadian seperti ini terus berlanjut. Kami belum mencapai ketinggian yang berarti. Break sebentar, tetap dalam keadaan berdiri karena sudah tidak memungkinkan untuk break dalam keadaan duduk berdekatan. Saat mengecek persediaan air, ternyata kami melakukan kesalahan fatal. Dari 3 botol ukuran 1,5 L yang kami bawa dari Kalimati, hanya satu botol yang terisis penuh, sementara 2 botol lainnya hanya terisi kurang dari setengah. Air di botol kecil yang masing-masing kami bawa sudah menipis, pendakian di Arcopodo telah menguras air kami. Air tersisa kurang dari 3 L, untuk 5 orang. Puncak Mahameru masih jauh tak terlihat di atas sana, sedangkan persediaan air kami taruh di Kalimati.
Dalam keadaan mulai was-was, kami lanjut. Track semakin tak bersahabat. Jalur selebar kurang dari 1m. Persis di kiri kami ada jurang jalur lahar, di sebelah kanan batu-batu besar berserakan. Kami mulai kewalahan, sulit rasanya menjaga keseimbangan tubuh jika tangan memegang senter dan tongkat, tapi tak ada pilihan lain, senter dan tongkat mutlak diperlukan. Jalur pasir lereng Mahameru sangat labil, tiap kita maju tiga atau empat langkah, dua langkah kita merosot lagi. Sejak lahar dingin mengalir beberapa bulan lalu, track pasir menjadi jauh lebih sulit didaki. Ada peringatan : DILARANG MENGINJAK BATU. Memang, akan terasa lebih mantap jika kita jadikan batu-batu menjadi pijakan. Namun, begitu batu itu longsor, nyawa orang yang berada di belakang kita yang menjadi taruhannya. Batu sebesar melon kecil, jika menggelinding dari kemiringan securam ini, kecepatan putarannya minimal dapat membuat patah kaki atau tangan (jika kena kaki atau tangan.,kalau kena kepala? merinding kami membayangkan).

Jam 04.00 langit mulai terang sedikit demi sedikit. Ada garis samar kemerahan di ufuk timur, awan putih segaris di atasnya, dibatasi lereng Mahameru yang masih gelap. Subhanallah….
selengkapnya »