5cm-legacy, 24 December 2009 jam 12:08 wib

Catatan Perjalanan Mahameru Bagian III

Oleh : Adhi Kurniawan

PENGALAMAN SPIRITUAL DI KALIMATI, JURANG MAUT DI ARCOPODO

Lanjutan : Hari Ketiga, Sabtu 26 September 2009, jam 19.00

Dalam keadaan sangat lelah dan kedinginan, kami sampai di Kalimati. Kalimati adalah lapangan luas berpasir pada ketinggian 3210 mdpl tepat berlatar belakang Mahameru. Udara mulai tipis dengan temperatur rendah. Jam 19.00 kami sampai di sana, tanpa buang waktu langsung bagi tugas, mendirikan tenda dome dan menyiapkan makanan. Kami berpacu dengan waktu, pukul 23.30 kami harus bersiap lanjut ke Arcopodo.

Lima carrier besar kami bongkar, logistik dan perlengkapan pendakian kami keluarkan, sebagian memasak indomie, sosis, bakso, teh panas, sebagian berjibaku memasang tenda, angin kadang bertiup kencang jadi agak susah mendirikan tenda. Jam 19.30 makanan dan tenda siap, segera kami hajar makan malam terakhir sebelum pendakian terberat dan tidur berhimpitan di dalam tenda. Tenda kami sebetulnya berkapasitas 4 orang, tetapi saat itu kami pakai berlima, plus tas-tas carrier kami. Kami sengaja membuat tenda menjadi penuh berdesakan agar udara dingin dari luar terhambat masuk dan panas tubuh kami tersekat tetap di dalam tenda.

Meskipun udara tipis dengan temperatur rendah dan angin dingin terus bertiup, langit malam itu sangat cerah, samasekali tidak tertutup awan. Cahaya bulan kekuningan sangat terang, pantulannya sampai ke tanah.,dan bintang-bintangnya.,SUBHANALLAH.,ribuan bertaburan di langit membentuk gugusan yang luar biasa indah.,sejauh mata memandang ke langit.,bintang memenuhi ke mana pandangan kita tertuju.,jadi ingat lagu Mahadewi (PADI).,

“hamparan langit mahasempurna.,bertahta bintang-bintang angkasa., ….. alam raya pun semua tersenyum.,tertunduk dan memuja hadirnya…”

Di Kalimati inilah aku merasakan getaran yang luar biasa.,aku taruh matras di luar tenda.,sengaja aku tempatkan agak ke tengah lapangan.,angin semakin dingin menusuk.,biarlah.,aku ingin merasakannya sekarang.,aku bertayamum dengan pasir Kalimati.,aku hadapkan matras ke kiblat.,aku siapkan hati untuk menghadap-NYA.,DIA.,DZAT YANG MAHA SEMPURNA.,aku jamak solat magrib dan isya.,ALLAHU AKBAR.,bertakbir terbata kubaca bacaan solat sambil menahan dingin yang semakin menusuk.,tubuh menggigil.,di atas pasir Kalimati aku bersujud.,di bawah langit Kalimati aku bersimpuh.,bintang-bintang di langit terasa sangat dekat dengan kepala.,titik-titik terang.,entah bagaimana saat itu aku menyadari.,bahwa aku masih jauh dari ALLAH.,bahkan terlalu jauh dari-NYA.,belum bisa mensyukuri segala nikmat yang diberikan kepadaku.,saat itu aku ingin menangis.,tapi hati ini ternyata keras membatu.,mengeras karena terlalu banyak dosa dan kesalahan.,tapi bagaimana pun.,aku bersyukur atas momentum di Kalimati itu.,kadang setelah mengalami hal-hal tertentu.,kita berharap dapat menjadi seseorang yang lebih baik dari diri kita sebelumnya.,berbeda dengan diri kita sebelumnya.,yah.,semoga hal itu juga bisa terjadi pada diriku.,hhmmm.,Kalimati.,di sinilah kutemukan hal itu.,

Kembali ke topik utama.,he3.,jam 20.15 kami minum teh tawar panas dari si Ax.,rasanya aneh.,seperti bukan teh., “Lhoh.,ini teh apaan.,kok kaya gini rasanya”., “Udah.,minum az.,itu buat memperlancar peredaran darah tau” jawab si Ax penuh kepercayaan., (wueee? Yakin loe, Ngga? Ha5.,kami setengah geli tapi ya percaya saja lah.,tetap kami minum ramuan aneh itu). Setelah itu kami memaksakan untuk segera tidur, tidak terlalu lama yang penting lelap. Kami tempelkan potongan koyo salonpas di kedua telapak kaki untuk memperlancar peredaran darah (nah kalo yang ini kami percaya!he3) dan di hidung agar udara yang masuk ke paru-paru tidak terlalu dingin. Sekitar 3 jam kami tidur.,jam 23.30 kami bangun.,makan roti ala kadarnya karena tidak ada waktu lagi untuk memasak. Kami packing ulang menggunakan daypack. Terlalu berbahaya jika mendaki lereng berpasir Mahameru menggunakan tas carrier. Kami bawa 4,5 liter air dan makanan secukupnya. Plus masing-masing bawa 1 botol kecil air. Kami mulai mengenakan perlengkapan pendakian lengkap. Aku sendiri mengenakan 2 lapis kaos, 2 lapis jaket, 2 lapis kaos kaki, sepatu, gaiter, balaclava, masker, kacamata hitam, dan tongkat. Udara sangat dingin, harus mengenakan baju berlapis. Gaiter untuk mengurangi pasir dan kerikil yang masuk ke sepatu, masker untuk melindungi dari debu serta antisipasi jika gas belerang bertiup ke arah lereng pendakian, dan kacamata untuk melindungi mata. Semua siap, kami berdiri melingkar, lalu berdoa memohon kelancaran dan keselamatan selama pendakian ke Arcopodo lalu ke Mahameru malam itu.

Jam 00.30 kami berangkat dari Kalimati. Langkah perlahan dengan interval rapat. Dari lapangan Kalimati kami berjalan 20 menit lalu turun semacam aliran sungai yang menjadi jalur lahar saat Semeru meletus. Inilah yang disebut Kalimati, kali (sungai) mati yang tidak ada airnya dan menjadi jalur lahar. Setelah menyeberangi Kalimati, kami mulai masuk hutan cemara. Yup.,kami mulai masuk hutan Arcopodo. Jalur pendakian menuju Arcopodo sempit dan kemiringan tanah sangat curam. Di beberapa titik bahkan ada yang kemiringannya lebih dari 75 drajat. Kami berjalan beriringan dan sering break untuk menghemat tenaga. Di sini udara semakin menipis, napas kami mudah terengah-engah. Mendaki lereng Acopodo butuh kewaspadaan ekstra.,jurang menganga di kanan kiri kita.,jangan sampai lengah atau melamun di sini.,karena keselamatan kita yang menjadi taruhannya.

Menurut cerita penduduk lokal yang kami temui di Ranu Kumbolo, di salah satu lereng Arcopodo ada dua buah arca yang kembar, serupa, (arco=arca, podo=sama). Namun salah satunya ada yang hilang bagian kepalanya. Arca tersebut tidak berada di jalur pendakian, tetapi berada di seberang jurang untuk mencapainya. Ada juga yang bilang.,jika arca itu luar biasa besarnya.,bagi orang yang diberi “penglihatan” dan bisa “melihat”.,katanya tenda-tenda dome pendaki yang nge-camp di Arcopodo jika dilihat dari Kalimati akan tampak berada di telapak tangan sang arca.,hmmm..wallahualam.

Sekitar satu jam berjalan, kami tidak kunjung sampai di titik Arcopodo, kami mulai lelah dan sedikit lengah. Track menanjak, sangat curam, seperti memanjat dinding rasanya. Tiba-tiba teman yang berada paling depan teriak.,STOP!! BUNTU!! Ketika kami arahkan senter ke tempat dia berpijak, ternyata itu adalah bibir jurang.,tidak sampai 3 langkah di depannya.,jurang menganga. Hampir saja. Teman yang berada di paling belakang berinisiatif turun balik, memutar ke jalur sebelumnya, turun ke tepi jurang, dan akhirnya menemukan jalur pendakian selanjutnya. Alhamdulillah.

Kami lanjut berjalan.,semakin perlahan karena lelah mulai menyergap.,dan masih dag dig dug juga.,hampir saja kami salah jalan. Jurang..,hmmm. Beberapa menit berjalan, kami menemukan petak agak lapang, cukup untuk berdiri berlima. (sebelumnya, jalur samasekali tidak bisa digunakan untuk break secara aman, selain karena curam dan sempit, tanahnya labil dan ada di tepi jurang). Ada papan di situ.,dengan tulisan., “KM 16. Beberapa saat lagi anda tiba di ARCOPODO (3600 MDPL). Beristirahatlah sejenak untuk persiapan menuju Puncak Mahameru. Apabila mental dan fisik belum siap maka DILARANG untuk mendaki”. Aha.,semangat kami kembali bangkit. Kami bergegas, ingin segera sampai di Arcopodo.

Namun, saat kami mengayun langkah.,tiba-tiba.,kretekkk.,kretekk.,brull.,teman yang di paling depan menginjak tepi jurang (lagi). Dua kali pendakian kami terhenti karena berhadapan dengan jurang. Hmm.,mungkin peringatan bagi kami.,untuk tetap waspada dan selalu hati-hati. Kami kembali memutar turun untuk mencari jalur yang benar.,dan.,yah.,ketemu. Kami lanjut lagi jalan perlahan. Sekitar 20 menit kemudian pohon cemara mulai jarang, dan tanah berdebu mulai berganti menjadi pasir berbatu.

Jam 02.30 kami sampai di ujung Arcopodo, di batas vegetasi terakhir, tepat sebelum mulai menapak lereng terjal pasir berbatu Mahameru. Tempat ini disebut Kelik.,jembatan batu alami yang menghubungkan sekaligus menjadi batas antara vegetasi terakhir Arcopodo dengan pasir Mahameru. Kami istirahat sejenak,.minum dan sedikit makan.,mengatur nafas,.menghimpun tenaga.,dan menyiapkan mental. Selangkah lagi kami akan menginjak lereng Mahameru.,tertegun kami menatap sosok hitam Mahameru dalam gelap dinihari. Hmmm.,sanggupkah kami mencapai puncak itu.,sepertinya berat.,kataku dalam hati. Bagaimana pun, kami sudah berada di sini, tempat di mana di ujung perjalanan ini mimpi kami gantungkan. Mahameru,.tunggu kami di sana…

(bersambung : MAHAHERU, SUMMIT ATTACK!!!!!!)

Get a Trackback link

2 Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Catatan Perjalanan Mahameru Bagian II | 5cm Legacy on 05 Jan 2010
  2. Pingback: Catatan Perjalanan Semeru #2 | Yes We Can ! on 04 Nov 2010

11 komentar

  1. ian, 25 Dec 2009:

    awesome…
    Lanjutkan..!!!

  2. eka, 17 Jan 2010:

    jurangnyaaaaaaa??? wuoooooooow………………

  3. edenia pertiwi, 08 Jun 2011:

    deg-deg-an bacanya…

  4. azis fals, 16 Jul 2011:

    Subkhanallah

  5. ALI WANDERER, 03 Aug 2011:

    Masihkah Terbesit Asa. Anak Cucuku Mencumbui Pasirnya.

  6. Alief, 20 Aug 2011:

    SUBHANALLAH merinding bacanya, mudah2n selagi msh muda ada kesempatan untuk melakukan perjalanan hati ke Mahameru.

  7. Rhina, 05 Nov 2011:

    ya ALLAH….
    pengen nangis aku bacanya mas pas yang bagian mas shalat di atas pasir kalimati, di bawah bintang2,meratapi dosa2 salam hidup….
    SUBHANALLAH…
    sumpah,,,saya pengen banget k sana ya ALLAH…

  8. lelly, 17 Jun 2012:

    28 mei kemarin aq k Semeru..tp cuma sampai pos kalimati..jadi pengen kesana lagi..sampe puncak,sampai Mahameru..=9
    benar2 perjalanan hati..

  9. Widya, 03 Dec 2012:

    Subhanallah.. aku pengen bangett mendaki Semeru!!

  10. ferdiansyah, 23 Nov 2013:

    5cm inspirasi pertemanan dan persahabatan serta percintaan, semangat mas bro

  11. mila penyu, 22 Apr 2014:

    subhanaallah .. sumpaaah rasanya pengen banget kesanaaa :(

Beri tanggapan?