Catatan Perjalanan Mahameru Bagian II
Oleh : Adhi kurniawan
Mencapai Ranu Kumbolo Menggapai Kalimati
Lanjutan : Hari Kedua, Jumat 25 September 2009. Kami awali dengan menyiapkan sarapan, nasi putih, nugget, indomi, oats, teh panas. Kalori harus penuh karena perjalanan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Beres-beres pondok, packing ulang, menyiapkan air, lalu sedikit peregangan. Lapor lagi ke basecamp. Jam 09.30 berangkat dari Basecamp Resor Ranupane, memanjatkan doa agar diberi kelancaran dan keselamatan. Ya, saatnya tangan bekerja lebih banyak dari biasanya.,dan kaki melangkah labih jauh dari biasanya.
Rute Ranupane-Ranu Kumbolo bisa ditempuh melalui 2 jalur, melalui Watu Rajeng selama 3 jam atau nge-track melalui Gunung Ayek-Ayek yang terjal namun waktu tempuh lebih singkat, antara 1,5-2 jam. Kami memilih jalur Watu Rajeng. Ladang penduduk yang didominasi bawang, kubis, dan beberapa sayuran lain menjadi pemandangan di sepanjang 30 menit awal. Memasuki batas hutan, pepohonan semakin rapat, jalan menyempit, dan mulai terjal. Jalur Watu Rajeng ini memutar melalui punggung bukit.
Dengan tas carrier seberat hampir 20-25 kg di punggung, langkah kaki terasa sangat berat. Kami jalan perlahan dan sering break, apalagi ada 3 perempuan dalam rombongan kami. Tiap kali memulai pendakian kita biasanya akan merasa berat karena tubuh masih butuh penyesuaian, tetapi setelah kita menemukan tempo, langkah akan lebih stabil. Pepohonan sepanjang jalur sangat lebat, harus sering menunduk, di beberapa tempat dedaunan membentuk kanopi gua, batang-batang pohon menjulur. Di tikungan sebelum naik ke pos Watu Rajeng, ada jembatan beton karena jurang cukup dalam dan posisi kemiringan labil. Mendekati pos jalur semakin terjal. Ketika sudah sampai di pos Watu Rajeng.,wow.,subhanallah.,jauh di selatan sana tampak garis putih yang memanjang.,yupz.,itu adalah garis pantai selatan Pulau Jawa.,tampak laut di kejauhan.
Di pos Watu Rajeng kami bertemu rombongan bule (gak tau dari negara mana) yang mau turun.,ada juga 3 orang penduduk lokal yang menjadi porter.,mereka membawa perlengkapan milik bule yang mau mendaki.,dengan tas yang begitu besar, pastinya sangat berat.,mereka hanya dibayar 75rb per hari. Sungguh tidak sebanding dengan resiko yang dihadapi dan kerja keras mereka. Tas yang mereka bawa bukanlah tas carrier standar,.tapi hanya semacam travel bag dipanggul. Mereka juga tidak dilengkapi dengan peralatan standar. Sungguh ironis. Bagaimanapun, mereka adalah orang-orang yang luar biasa!!!!
Lanjut dari pos Watu Rajeng, jam 12.00, track yang sangat terjal dengan pepohonan rimbun. Kata pendaki yang kami temui, Ranu Kumbolo sudah dekat, di balik bukit itu. Di tengah jalan,kami didahului 3 orang porter tadi.,sempat ngobrol sedikit.,lalu mereka segera bergegas dengan langkah cepat sambil bernyanyi lagu Tul Jaenak keras-keras. Kami ingat betul.,mereka tampak ceria dan samasekali tidak mengeluh.,padahal beban yang mereka pasti luar biasa berat.,travel bag sangat tidak nyaman dibawa dan tidak ada backsystem untuk mengurangi beban seperti halnya tas carrier pendaki. Salut untuk mereka!
Satu setengah jam kami berjalan, tidak tampak tanda-tanda kami mendekati Ranu Kumbolo.,kami sudah sangat lelah.,mulai bosan juga dengan track memutar dan pepohonan yang rapat. Menjelang jam 14.00 jalur terasa semakin landai.,lalu.,tak lama kemudian.,tampak datar kebiruan jauh di bawah di depan kami.,kami mempercepat langkah.,lalu.,SUBHANALLAH.,tampak Ranu Kumbolo persis di lembah di depan kami.,dengan air bening tampak hijau kebiruan dari jauh.,kami bergegas turun ke danau.,jam 14.15 kami tiba di tepian Ranu Kumbolo.
Ranu Kumbolo adalah danau yang terletak di lembah dikelilingi bukit-bukit curam.,seperti mangkuk raksasa dengan air menggenang di dasarnya.,rumpun pohon-pohon cemara berderet di sekelilingnya.,rumput menghampar menutupi lereng-lereng bukit.,ada beberapa rumpun edelweiss di sepanjang jalur ke bawah.,kalo masih ingat iklan Marlboro yang ada koboi-koboi sedang berkuda di tepian danau.,nah.,hampir mirip seperti itu. Air Ranu Kumbolo sangat sejuk.,bening.,menjadi sumber kehidupan. Banyak pendaki yang menyebut Ranu Kumbolo sebagai surganya Semeru.
Angin bertiup sepoi.,cukup dingin juga. Air danau bergelombang lembut.,memecah di tepiannya. Sejenak aku mencelupkan kaki ke danau…bermain air..dan sungguh…ada kedamaian di sana.
Di Ranu Kumbolo break lumayan lama.,masak indomi, nasi, bakso, sosis, kopi.,kalori yang terbakar banyak.,jadi butuh banyak asupan juga untuk menggantinya. Habis makan kami bersantai.,sekedar melemaskan otot dan menghimpun tenaga.,mengisi penuh jerigen dan botol air.,lalu packing ulang dan bersiap melanjutkan perjalanan. Di Ranu Kumbolo, kami berlima berpisah jalan dengan rombongan besar yang berniat menginap dan baru lanjut besoknya. Logistik kami hanya cukup untuk 4 hari, jadi mau tidak mau kami harus lanjut hari itu juga.
Mulai melangkah jam 15.30, kami langsung dihadapkan pada Tanjakan Cinta.,tanjakan terjal untuk mencapai bukit keluar dari lembah Ranu Kumbolo.
Ada mitos dan banyak pendaki yang percaya bahwa jika kita mampu mendaki Tanjakan Cinta tanpa berhenti dan tidak menoleh ke belakang sambil terus memikirkan orang yang kita cintai.,maka hubungan cinta kita dengan orang tersebut akan langgeng dan terus bertahan.,hmm.,aku pribadi sih kurang begitu percaya.,karena cinta tidak hanya tentang mendaki tanjakan atau memikirkan orang yang kita cintai saja.,itu hanya sekedar kiasan.,cinta adalah perjuangan hati tanpa henti dan ikhlas.,untuk tetap istiqomah pada orang yang kita cintai hingga tiba saatnya nanti.,(he3.,kami sebut mereka wanita wanita-yang-lembut-hatinya).
Dua orang teman kami tampak kesetanan mendaki Tanjakan Cinta.,wew.,hebat bener.,satu orang sampai di atas langsung berhenti.,memandang puas ke bawah.,woyy.,gue berhasil.,satu orang lainnya terus berjalan melewati orang pertama dan baru berhenti di ujung tanjakan di puncak bukit.,ternyata ujung Tanjakan Cinta adalah tempat orang kedua berhenti.,jadi.,yah.,si orang pertama gagal dah mendaki Tanjakan Cinta.,padahal dia udah yakin bener tu kalo berhasil.,he3.,Tanjakan Setengah Cinta dong cuy.,atau Tanjakan Ninggal Janji? (muncul jargon.,si An**a.,berjuang.,demi cinta.,cukup Alpeliebe az kali.,N**a.,ha5)
Dari puncak Tanjakan Cinta.,seluas mata memandang tampak hamparan sabana Oro-Oro Ombo.,lembah yang dikelilingi bukit.,seluruh permukaan lembah ditutupi ilalang setinggi perut.,ada jalan setapak membelah sabana tersebut.,lagi-lagi.,SUBHANALLAH.,Semeru tak pernah berhenti memberi kejutan-kejutan luar biasa bagi mereka yang berbuat lebih banyak dan melangkah lebih jauh. Tingal nambahin singa, ceetah, rusa-rusa liar, maka akan mirip sabana di Safari Afrika.,he3.,menyebrangi Oro-Oro Ombo ada dua jalur.,memutar ke kiri melalui lereng bukit yang mengitari sabana tersebut.,atau turun mengikuti jalur setapak yang membelah Oro-Oro Ombo. Hmm.,sungguh menyenangkan berlarian menyebrangi sabana ini.,ada sensasi yang lain. Rumpun cemara rimbun mengelompok di salah satu lereng.,tampak dramatis seperti pemandangan di kalender-kalender.
Hampir 1 jam kami menyebrangi Oro-Oro Ombo.,sampailah kami di tepi hutan cemara yang sebagian tumbang diterjang lahar ketika Semeru meletus dulu.,hutan cemara inilah yang disebut Cemoro Kandang.,di hutan inilah dalam novel 5 cm diceritakan Genta pernah tersesat sehari semalam.,memang.,jalur yang ada tampak sama ke semua arah.,sukar untuk dikenali.,hanya berupa pasir dengan bekas jejak kaki.,apalagi kami sampai di sana sudah mulai gelap.,sekitar jam 17.00.,kami istirahat sejenak..,merapatkan interval barisan.,lalu meneruskan perjalanan dengan sering-sering mengecek kelengkapan personil.,jangan pernah melamun atau berjalan dengan interval lebih dari 5 m dalam medan seperti ini.,pohon cemara yang ada sudah cukup berumur.,tampak tinggi-tinggi.,menghitam bekas terbakar lahar di beberapa bagian.,sedikit seram juga.,tapi.,pikiran harus tetap positif.,bahwa kami semua ada dalam pengawasan dan perlindungan ALLAH.,
Jam 18.00.,sisa-sisa cahaya senja mulai habis.,kami sampai di lapangan rumput terbuka dengan edelweiss di tepiannya.,ketika memandang ke depan.,tampak Mahameru di kejauhan berdiri penuh wibawa.,lereng-lereng berpasirnya.,cemara-cemara raksasa berjajar selapis tepat di pangkal kerucutnya.,langit senja yang setengah gelap.,SUBHANALLAH.,Engkau beri kami kesempatan mengagumi ciptaan-Mu ya ALLAH.,aku sendiri benar-benar speechless memandang Mahameru kali pertama sedekat ini.,benar-benar luar biasa.,aku berhenti sejenak.,bersyukur dalam hati.,sudah sampai sejauh ini.,
Teman-teman mengingatkan.,agar segera bergegas karena Kalimati masih lumayan jauh.,setengah jam perjalanan lagi.,karena sudah gelap.,kami mengeluarkan senter.,trekkkk.,menyalakan senter lalu melanjutkan perjalanan dengan interval sangat rapat menerobos pepohonan rimbun menuju Kalimati. Terus dan terus berjalan.,akhirnya jam 19.00 kami sampai di Kalimati.
Kalimati adalah lapangan luas berpasir dengan rumpun edelweiss di sana-sini.,dipagari cemara di sepanjang ujung-ujungnya.,berlatar Mahameru.,kami memutuskan membuka tenda di sini.,sebelum melanjutkan perjuangan ke Arcopodo beberapa jam kemudian.
(Bersambung-Pengalaman Spiritual di Kalimati, Jurang Maut di Arcopodo)
3 Trackbacks/Pingbacks
- Ping balik: Catatan Perjalanan Mahameru | 5cm Legacy on 05 Jan 2010









still shocking…
ini toh lanjutannnya..
takjub jub jub.. d^^b
bawain edelweisnya donk……………?
pengen bangettt…
syangnya gag smua org bner” bsa mengahargai jsa para porter,..
bner” pjuang sjati mreka..dmi org” yg dcintai..
luar biasa…..
mohon doax spy rencanaku sm teman2 bwt ke sana bln 6 bisa tercapai…….